Written by Zahiruddin Zabidi @ mustanir.net on . Posted in Fiqh

Ulama Dan Umara

Tidak perlu diperdebatkan lagi bahwa hikmah Ilahi di balik ciptaan-Nya ini adalah terlaksananya perintah agama dengan baik. Dan jalannya perintah agama ini tidak bisa terwujud kecuali jika masalah keduniaan bisa teratur dengan baik. Dan teraturnya masalah keduniaan tidak terwujud jika tidak ada seorang pemimpin yang ditaati. Maka syariat Islam mewajibkan untuk mengangkat pemimpin yang ditaati. Demikianlah pendapat Hujjatul Islam, Imam al-Ghazali dalam kitabnya al-Iqtisad fi l-I'tiqad.

Syeikh Abu 'Abdillah al-Qal'i dalam kitabnya Tahzib al-Riyasah wa Tartib al-Siyasah menjelaskan tentang pentingnya pemimpin umat sebagai berikut: "Sekiranya tidak ada seorang pemimpin yang dipatuhi, niscaya pudarlah kemuliaan Islam. Sekiranya tidak ada pemimpin yang berkuasa, maka hilanglah stabilitas keamanan dan terputuslah jalan kemakmuran. Negara berjalan tanpa undang-undang, anak-anak yatim terlantarkan dan ibadah haji tidak bisa dilaksanakan. Jika tidak ada penguasa, niscaya anak-anak yatim tidak pernah bisa menikah dan sebagian orang akan berleluasa memakan harta sebagian yang lain".

Dengan demikian, keberadaan pemimpin dalam syari'at Islam adalah wajib. Dan pemimpin yang adil diibaratkan seperti bayangan Allah di muka bumi. Nabi bersabda: "Sesungguhnya penguasa (yang adil) itu adalah bayangan Allah di bumi yang menjadi tempat berlindungnya setiap orang yang terzalimi". (HR. Baihaqi)

Maka tidak berlebihan jika banyak tokoh-tokoh bijak pandai (hukama') berkata: "Agama adalah pondasi dan kekuasaan adalah penjaga. Segala yang tidak berpondasi, niscaya akan hancur. Dan segala yang tidak mempunyai penjaga, pasti akan hilang". Senada dengan pendapat tentang keharusan adanya pemimpin yang ditaati, Ibn al-Mu'tazz berkata: "Rusaknya rakyat karena tidak adanya pemimpin adalah seperti rusaknya badan tanpa ruh". (Abu 'Abdillah al-Qal'i, Tahzib al-Riyasah wa Tartib al-Siyasah, Maktaba al-Mannar, Yordan, ed. Ibrahim Yusuf dan Mustafa)

Pemimpin yang baik hanyalah orang yang bisa melaksanakan tanggung jawabnya dengan baik. Tanggung jawab pemimpin akan terlaksana jika dia selalu adil. Dan terwujudnya keadilan bisa dilihat jika seorang pemimpin mengutamakan kesejahteraan rakyatnya daripada dirinya atau keluarganya. Inilah pentingnya keadilan seorang pemimpin. Dalam kitab al-Amwal, karya al-Qasim bin Salam disebutkan bahwa amalan satu hari yang dilakukan oleh pemimpin yang adil itu lebih baik dari amal ibadah seseorang untuk keluarganya selama 100 atau 50 tahun.

Maka pemimpin yang baik adalah orang yang paling berkualitas. Dan kualitas seseorang itu ditentukan oleh kapasitas ilmu yang dimilikinya. Ali bin Abi Talib berwasiat: "Yang paling rendah nilai seseorang itu adalah yang paling sedikit kapasitas ilmunya".

Namun demikian, imam al-Ghazali juga mengingatkan dalam kitab al-Iqtisad fi l-I'tiqad bahwa politik bukanlah segala-galanya. Bahkan dia bukan termasuk masalah prinsip dalam pembahasan akidah. Lebih lanjut beliau berkata: "Pembahasan tentang kepemimpinan (imamah) juga tidak termasuk masalah penting, juga bukan bagian dari disiplin ilmu-ilmu yang rasional yang mengandung masalah fiqh. Tapi dia banyak memicu fanatisme. Orang yang menghindari berkecimpung dalam masalah ini, lebih selamat daripada orang yang berkecimpung di dalamnya, meskipun dia benar. Lebih lagi, bagaimana jikalau dia salah?!

Izzah Ulama

Berkenaan dengan masalah politik, posisi ulama sangatlah penting. Mereka senantiasa dituntut kritis sekiranya seorang penguasa mulai cenderung pada kemungkaran. Sabda Rasulullah SAW bahwa ulama adalah pewaris para nabi (HR. Tirmidzi) patut dijadikan pengingat bagi mereka agar tidak terjerumus pada hal-hal yang berakibat pada hilangnya izzah (keagungan) seorang ulama.

Lalu bagaimana kiat agar izzah ulama senantiasa terjaga?

Syeikh al-Absyihi (w. 854H) dalam kitabnya al-Mustatraf fi kulli fannin Mustazhraf menukil beberapa nasehat kaum bijak pandai sebagai berikut:

Fudhail berkata: "Seburuk-buruknya ulama adalah orang yang mendekati umara', dan sebaik-baik umara' adalah orang yang mendekati ulama". Beliau juga menukil kitab Kalila wa Dimnah yang menyebutkan bahwa Tiga perkara yang membuat manusia tidak akan selamat, kecuali hanya sedikit, a) mendekati penguasa, b) mempercayakan rahasia pada perempuan, dan c) mencoba-coba minum racun.

Umar bin Abdil Aziz yang bergelar khalifah kelima dari khulafa' rasyidin, suatu ketika berkata pada Maimun bin Mahran: "Wahai Maimun, jagalah dariku 4 perkara: Janganlah sekali-kali mendekati penguasa, meskipun engkau menyuruhnya melakukan amar ma'ruf dan nahi munkar; janganlah sekali-kali berkhalwat dengan perempuan, meskipun engkau membacakan al-Qur'an kepadanya; jangan bersahabat dengan orang yang memutuskan hubungan dengan keluarganya, sebab dia akan lebih mudah memutuskan hubungannya denganmu; dan janganlah berbicara hari ini tentang suatu perkara, namun kamu ingkari besoknya. Betapa banyak kita menyaksikan orang-orang mulia, cendekiawan dan ahli agama yang mendekati penguasa untuk tujuan memperbaikinya, tapi ternyata dia malah rusak karena terpengaruh oleh penguasa.

Berkenaan dengan hubungan antara ulama dan umara, banyak tamsil Arab telah menyinggungnya, di antaranya sebagai berikut:

  • Perumpamaan orang yang mendekati penguasa untuk memperbaikinya, adalah seperti orang yang ingin meluruskan tembok yang bengkok. Lalu dia bersandar pada tembok ketika meluruskannya. Maka runtuhlah tembok itu menimpanya dan binasalah ia.
  • Orang yang mendekati penguasa itu ibarat penunggang singa yang ditakuti orang banyak. Padahal dia sendiri lebih takut kepada singa yang ditungganginya itu.

Itulah perumpamaan orang-orang alim yang mengerumuni penguasa. Bagaimana pun alimnya seorang penasehat, tetapi keputusan terakhir tetap pada penguasa. Adakalanya seorang bermaksud mengerem kerusakan penguasa, namun bagaimana pun posisi rem tetap berada di kaki atau dalam genggaman tangan. Rem hanya diinjak jika diperlukan.

Berkenaan dengan sikap ulama terhadap umara', KH. Hasan Abdullah Sahal, pengasuh Pondok Modern Darussalam Gontor, suatu ketika pernah berpesan pada santri-santrinya: "Dekat boleh, dekat-dekat jangan, mendekati apalagi. Jauh boleh, jauh-jauh jangan, menjauhi apalagi".

Sebagai penutup, tokoh-tokoh bijak pandai berwasiat: "Apabila Allah berkehendak kebaikan pada diri hamba-Nya, niscaya Dia akan mengilhamkannya ketaatan, menggariskan padanya kepuasan hati (qana'ah), memahamkannya urusan agama, dan menguatkannya dengan keyakinan. Lalu hamba itu akan merasa cukup dengan nafkah hidupnya dan berhias dengan kesederhanaan. Namun jika Dia berkehendak jahat pada seorang hamba, maka dijadikannyalah hamba itu mencintai harta, dibentangkan angan-angannya, disibukkannya dengan dunia dan dijadikan hawa nafsunya pengendali dirinya. Sehingga bertumpuk-tumpuklah kerusakan yang diperbuatnya. Barang siapa yang tidak bisa menjadikan agamanya sebagai penasehat, maka segala nasehat pun tidak pernah membawa manfaat. Barang siapa yang menjadi bahagia dengan kerusakan, niscaya buruklah jalan kematiannya. Jenjang usia itu pendek dan kesucian jiwa itu perkara yang mustahil. Barang siapa mematuhi hawa nafsunya, berarti telah menggadaikan agamanya dengan dunianya. Buah ilmu itu mengamalkan apa yang diketahuinya. Barang siapa ridha dengan ketetapan Allah, niscaya tidak pernah ditimpa amarah. Dan barang siapa berpuas hati dengan anugerah-Nya, tidak akan dihinggapi penyakit dengki.

Demikianlah untaian nasehat Syeikh al-Absyihi dalam karyanya al-Mustatraf fi kulli fannin Mustazhraf. Sebuah kitab yang pernah diterjemahkan dalam bahasa Turki dan dicetak pada tahun 1846M, diterjemahkan kedalam bahasa Perancis dan dicetak di Paris 1899-1902M. Dan dicetak dalam bahasa Arab pertama kalinya pada tahun 1304H /1887M di Kairo. (lihat Majalah al-Turats al-Sya'bi, edisi 3, tahun 14, 1983M)

Written by Abu Saif @ www.saifulislam.com on . Posted in Sirah Islam

Dr Muhammad Abdul Hamid Harb telah menterjemahkan sekeping manuskrip Othmaniyyah yang tersimpan di Perpustakaan Sultan Abdul Hamid (Yildiz Sarayi) tentang rekod kerajaan Othmaniyyah terhadap kemunculan dakwah Muhammad bin Abdul Wahhab. Manuskrip itu ditulis oleh Muhammad Kamil bin Nukman atau lebih dikenali sebagai Ibn Daraami al-Homsi. Manuskrip itu bertarikh 27 Ramadhan tahun 1312H, setebal 82 keping iaitu 164 muka surat. Ia ditulis atas permintaan Sultan Abdul Hamid II yang mahu mengetahui secara terperinci tentang hal ehwal Semenanjung Tanah Arab dari segi geografinya, sosio budayanya, dan termasuklah kesan dakwah Muhammad bin Abdul Wahhab.

Antara isi kandungan manuskrip tersebut ialah kisah bagaimana seorang Badwi telah kehilangan untanya. Lalu dia pergi ke kubur seorang alim bernama Saad dan meratap, “Wahai Saad, wahai Saad, pulangkan untaku!” Hal ini berlarutan selama beberapa hari dan akhirnya, perihal Badwi yang meratap di kubur syeikhnya itu sampai ke pengetahuan Muhammad bin Abdul Wahhab. Beliau telah datang kepada Badwi tersebut lalu berkata:

“Apa masalah kamu?”

“Aku kehilangan untaku. Sebab itu aku datang ke kubur syeikh aku. Sesungguhnya Syeikh Saad pasti boleh memulangkan kepadaku untaku yang hilang itu!” jawab orang Badwi itu tadi.

Muhammad bin Abdul Wahhab bertanya “siapakah syeikh kamu yang kamu maksudkan itu?”

Si Badwi menjawab “inilah dia syeikh aku, yang duduk di dalam kubur ni!”

Lalu Muhammad bin Abdul Wahhab berkata “Ya Sheikh! Kamu adalah kamu dan kamu hidup serta kamu yang hidup tak mampu mendapatkan untamu. Apa hal pula kamu minta dari syeikh kamu sedangkan dia adalah mayat yang sudah mati. Bagaimana mungkin untuk dia keluar dari kubur untuk mencarikan kamu apa yang kamu sendiri tidak mampu lakukan? Sudahlah, tinggalkanlah si mati itu, mintalah pertolongan daripada Allah dan bukannya dari si dia yang sudah tertanam di bawah batu ini. Dia sudah menjadi tulang. Janganlah kamu minta dari Saad, sebaliknya mintalah daripada Tuhan Saad. Jangan sebut: wahai Saad! Sebaliknya sebutlah: wahai Tuhan Saad! Sesungguhnya Dia berkuasa untuk memulangkan untamu. Ingat, bukan Saad, tapi Tuhan Saad. Dan ketahuilah bahawa Allah itu Maha Berkuasa atas segala sesuatu!” (muka surat 31)

Ibn Daraami al-Homsi yang menulis manuskrip itu, membuat komentar untuk Sultan Abdul Hamid II dengan berkata, “sesungguhnya nasihat-nasihat Muhammad bin Abdul Wahab telah pun disebarkan kepada kabilah-kabilah Arab dan mereka menerimanya dengan baik, malah kesannya juga amat teguh. Pandangannya tersebar ke seluruh pelosok Semenanjung Tanah Arab dari hujung ke hujung, meliputi Haramain serta Iraq, Hijaz dan bandar-bandar yang lain.” (muka surat 32) [rujuk Al-Othmaniyyun fee at-Taareekh wa al-Hadharah oleh Dr. Muhammad Abdul Hamid Harb, terbitan Darul Qalam, Dimasyq, cetakan kedua 1419 / 1999)

Sehingga ke era pemerintahan Sultan Abdul Hamid II (1876 – 1908) sentimen menyalahkan gerakan Muhammad bin Abdul Wahhab sebagai punca keruntuhan Khilafah Othmaniyyah, tidak berlaku.

Manuskrip ini hanyalah salah satu daripada rujukan-rujukan yang perlu dilunaskan dalam memenuhi tuntutan pensejarahan berkaitan Daulah Uthmaniah dan gerakan Muhammad Ibn Abd al-Wahhab. Semasa kita pantas menggunakan istilah Wahhabi, apakah latar belakang sejarah istilah itu? Dari mana asal usulnya?

TOPIK SEJARAH, SEBELUM AQIDAH DAN fiqh

Sebelum isi kandungan buku, kitab, manuskrip, makalah, dibahaskan dalam topik Aqidah dan Fiqh, kesemua sumber rujukan itu adalah bahan rujukan sejarah. Sebelum bahan rujukan sejarah dipakai sebagai sumber maklumat sejarah, bahan-bahan itu perlu berhadapan dengan kritikan luaran dan kritikan dalaman. Kritikan berkenaan meliputi fizikal bahan rujukan, dakwat yang dipakai, kesesuaiannya dengan tarikh bahan tersebut, siapa penulisnya, adakah ia tulisan asal atau salinan kepada tulisan asal dan banyak lagi isu, semata-mata untuk menjelaskan: adakah bahan ini valid untuk dirujuk.

Setelah bahagian pertama ini selesai, maka kritikan dilakukan terhadap isi kandungan sumber tersebut, yakni fakta-fakta yang terkandung di dalamnya.

Topik Muhammad Ibn Abd al-Wahhab dan gerakannya bukan terbatas kepada topik Aqidah dan Fiqh, untuk langsung kita secara pantas membuat keputusan mengenainya. Apatah lagi untuk menggunakan istilah Wahhabi secara bebas tanpa melunaskan amanah ilmu terlebih dahulu, dari mana asal usulnya istilah tersebut dan apa sebenarnya yang dimaksudkan dengan Wahhabi itu sendiri. Sesungguhnya topik ini terlebih dahulu adalah topik Sejarah.

Jika seorang tuan guru alim di dalam Aqidah dan Fiqh, tetapi tidak menyempurnakan tuntutan pensejarahan yang berada di belakang sesebuah topik, tidak mustahil keadaan ini boleh memerangkap seorang alim dalam memperkatakan perkara yang beliau separuh tahu.

Al-Maidah 5:8

Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu semua sentiasa menjadi orang-orang yang menegakkan keadilan kerana Allah, lagi menerangkan kebenaran; dan jangan sekali-kali kebencian kamu terhadap sesuatu kaum itu mendorong kamu kepada tidak melakukan keadilan. Hendaklah kamu berlaku adil (kepada sesiapa jua) kerana sikap adil itu lebih hampir kepada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dengan mendalam akan apa yang kamu lakukan. [Al-Ma'idah 5:8]

Perjalanan masih panjang.

Sungguh panjang.

Iklan Teks

BlockBuzz adalah pengiklanan WORLDWIDE dalam 22 bahasa. Cara yang menarik untuk beriklan sambil menjana pendapatan sehingga USD10,315.00! Baru

9 jenis haruman minyak wangi Kasturi boleh didapati disini! Baru

Khidmat membina laman web murah dengan harga RM599 sehingga RM1099 sahaja! Baru

IKLAN TEKS - 1 bulan bersamaan dengan RM15. Hubungi email: mrarun11[@]gmail.com

Pelawat

3198044
Hari Ini
Semalam
Minggu Ini
Minggu Lepas
Bulan Ini
Bulan Lepas
All Days
505
771
4359
2846586
19073
24214
3198044

IP Anda: 23.20.110.176

шаблоны joomla 2.5